Ketua Umum PB Al Washliyah Kecam Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras dan Desak Aparat Segera Bertindak
Jakarta, 12 Agustus 2026. Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah, Dr. KH. Masyhuril Khamis, SH, MM, mendesak aparat penegak hukum mengusut dugaan penggunaan tantangan hafalan Surah Ad-Dhuha sebagai sarana promosi minuman keras dalam pergelaran musik The Sounds Project di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Pernyataan itu ia sampaikan di Jakarta pada Rabu, 12 Agustus 2026 bertepatan dengan 28 Safar 1448 H, menanggapi pemberitaan yang mencuat dalam dua hari terakhir.
Bila peristiwa itu benar terjadi, Masyhuril Khamis menyatakan sangat menyesalkan sekaligus mengecam keras kejadian tersebut. Menurutnya, aksi semacam ini tidak boleh dibiarkan karena ayat suci Al-Qur’an diduga dikaitkan dengan promosi minuman yang diharamkan dalam Islam.
Tidak Boleh Berlindung di Balik Alasan di Luar Koordinasi
Masyhuril Khamis, yang juga menjabat Ketua Bidang Halal Majelis Ulama Indonesia Pusat, menilai pihak penyelenggara tidak dapat begitu saja melepaskan tanggung jawab dengan alasan kegiatan itu berada di luar koordinasi mereka. Siapa pun yang menggagas dan menjalankan aksi tersebut, katanya, harus diproses secara hukum.
Sikap serupa datang dari Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah. Ketua Umum PP HIMMAH, Abdul Razak Nasution, menilai penggunaan ayat suci sebagai materi permainan berhadiah khamar telah melukai perasaan umat Islam di Indonesia. Tindakan itu, katanya, “menodai kesucian ayat-ayat Al Qur’an dan merupakan bentuk pelecehan terhadap nilai-nilai agama Islam” yang tidak dapat ditoleransi.
Bermula dari Sebuah Unggahan Media Sosial
Kasus ini mengemuka setelah sebuah akun media sosial membagikan pengalamannya mendatangi festival musik tersebut pada 9 Agustus 2026. Dalam unggahan itu terlihat booth produk minuman beralkohol merek Newport, salah satu sponsor acara, menggelar gimik promosi berupa tantangan menghafal Surah Ad-Dhuha dengan imbalan satu botol minuman keras.
Unggahan tersebut cepat menyebar dan memicu kecaman luas dari warganet. Banyak yang menilai penyelenggara maupun sponsor mengabaikan adab dan etika dalam menyusun materi pemasaran, terlebih karena yang dijadikan bahan permainan adalah bacaan yang setiap hari dilafalkan umat Islam dalam salat.
Penyelenggara Menegur Sponsor dan Menjalankan Evaluasi
Manajemen The Sounds Project menyampaikan pernyataan resmi melalui akun Instagram mereka pada Selasa, 11 Agustus 2026. Panitia menegaskan tindakan tersebut berada di luar pengetahuan, arahan, maupun persetujuan mereka, dan menyatakan turut marah serta kecewa atas kejadian itu. Mereka menyatakan “tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge” atau promosi dalam bentuk apa pun.
Panitia menjelaskan bahwa mereka lebih dahulu mengumpulkan bukti dan memastikan kronologi sebelum bersuara. Sebagai langkah lanjutan, penyelenggara menegur keras pihak sponsor Newport, menuntut penyelesaian kasus sampai tuntas, mengawal proses identifikasi oknum yang terlibat, dan menjalankan evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang.
Menjaga Kehormatan Al-Qur’an, Bukan Berhenti pada Kecaman
Peristiwa ini memberi pembelajaran berharga untuk kita umat muslim, agar kita bisa peduli, hadir dan mau bertindak saat kitab suci Alquran dijadikan bahan gimik.
Bagi Al Washliyah, yang sejak 1930 memilih jalan pendidikan dan dakwah, menjaga kehormatan Al-Qur’an berarti memastikan ia dikenal, dibaca, dan dihafal oleh sebanyak mungkin anak bangsa. Semangat itu pula yang dirawat Laznas Alzis Al Washliyah lewat dukungan bagi santri penghafal Al-Qur’an, guru madrasah, sampai dai di daerah terpencil, yang seluruhnya dihidupi dari zakat, infak, dan sedekah umat.
Tim Media Laznas Alzis Al Washliyah
