Ngopi Ngobrol Dunia Filantropi: Laznas Alzis Al Washliyah Bahas Hati dan SOP di Meja Relawan
Jakarta, 25 Juli 2026. Laznas Alzis Al Washliyah menggelar diskusi bertajuk Ngopi “Ngobrol Dunia Filantropi” di Odistry Cafe, Jakarta Pusat, Sabtu (25/7/2026). Diskusi yang dimulai pukul sepuluh pagi ini mengangkat tema “Profesionalisasi Kemanusiaan: Apakah Relawan Masih Perlu Hati, atau Cukup SOP?” Sekitar dua puluh relawan dan staf lembaga hadir mengikuti perbincangan yang menghadirkan tiga narasumber dari latar berbeda: Tatiek Kancaniati (Social Entrepreneur Leader), Ahmad Bayu Gawtama (Presiden Sekolah Relawan Indonesia), dan Muhammad Affan, S.Si (Direktur Utama Laznas Alzis Al Washliyah).
Tema yang diangkat menyentuh perdebatan lama di dunia kemanusiaan. Semakin banyak lembaga filantropi tumbuh dan mengelola dana umat dalam jumlah besar. Ini menuntut standar operasional yang ketat, mulai dari pencatatan, pelaporan, sampai protokol keamanan relawan di lapangan.
Di sisi lain, kerja kemanusiaan lahir dari sesuatu yang paling manusiawi yaitu empati. Pertanyaannya, apakah empati bisa hidup berdampingan dengan sistem, atau salah satunya harus mengalah? Diskusi ini mendudukkan pertanyaan itu tanpa buru-buru mencari jawaban tunggal.
Pemilihan pemateri memperlihatkan niat panitia menjaga percakapan tetap seimbang. Ahmad Bayu Gawtama, akrab disapa Mas Gaw, sudah bergelut di dunia kerelawanan sejak akhir 1990-an. Bersama Roel Mustafa dan Dony Aryanto, ia mendirikan Sekolah Relawan pada Januari 2013 setelah bertahun-tahun mengamati bahwa banyak relawan turun ke lokasi bencana hanya berbekal semangat, tanpa keterampilan teknis yang memadai. Dari kacamata beliau, profesionalisme adalah cara agar kebaikan tidak berhenti di tengah jalan.
Tatiek Kancaniati membawa perspektif pemberdayaan. Perempuan kelahiran Bogor ini dikenal sebagai perintis Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru di Ciampea, Bogor, sebuah kampung binaan yang memberdayakan warga desa lewat usaha rumahan. Dari sudut pandangnya, sisi kemanusiaan bukan lawan dari sistem, melainkan ruh yang membuat sebuah program bertahan lama di tengah masyarakat.
Muhammad Affan, S.Si mewakili suara pengelola lembaga zakat. Sebagai Direktur Utama Laznas Alzis Al Washliyah, ia memimpin lembaga menghimpun dan menyalurkan dana dari zakat, infak, dan sedekah umat untuk program pendidikan, dakwah, dan sosial di bawah naungan Al Jam’iyatul Washliyah. Amanah sebesar itu meniscayakan sistem yang rapi, sekaligus relawan yang paham nilai di baliknya.
Ruang Belajar dan Silaturahmi
Sesi tanya jawab yang dibuka, beberapa relawan berbagi kesulitan yang mereka temui di lapangan, dari kendala komunikasi dengan penerima manfaat sampai bagaimana menyeimbangkan waktu antara kerelawanan dan pekerjaan utama. Cerita-cerita itu dijawab dengan tips praktis, baik oleh para narasumber maupun sesama peserta yang lebih senior. Tanpa direncanakan, pertemuan ini menjadi ajang mentoring antar-relawan.
Meneguhkan Ikatan Filantropi
Laznas Alzis Al Washliyah adalah lembaga amil zakat nasional yang menjadi penggerak penghimpunan dan penyaluran zakat, infak, serta sedekah untuk program di bawah naungan Al Jam’iyatul Washliyah. Programnya menopang beragam kebutuhan umat, mulai dari beasiswa santri, dukungan guru madrasah, sampai dai pelosok, ditopang gotong royong para muzaki dan tangan-tangan relawan di lapangan.
Kegiatan ngopi ini direncanakan menjadi agenda berkala. Selain memperkuat kapasitas relawan, forum santai semacam ini juga menjadi wadah menjaga ikatan hati antar-pengurus, staf, dan relawan.
Bagi masyarakat yang tergerak berkontribusi, baik sebagai relawan maupun donatur, informasi selengkapnya dapat diakses melalui alzis.id. Pada akhirnya, jawaban atas pertanyaan “hati atau SOP” mungkin bukan salah satunya, melainkan dua-duanya, sebagaimana ditunjukkan lewat kerja kecil yang dimulai dari satu meja kopi.
Tim Media Laznas Alzis Al Washliyah
