Sejarah Al Washliyah: Ormas Islam yang Lahir dari Ruang Diskusi Pelajar Medan 1930

Al Jam’iyatul Washliyah, salah satu organisasi Islam tertua di Indonesia,  bermula dari ruang-ruang diskusi para pelajar muda di Kota Medan.

Kisahnya berawal dari Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT), sebuah sekolah agama yang berdiri di Medan sejak 1918. Di tempat inilah sejumlah pelajar membentuk wadah diskusi yang mereka beri nama Debating Club. Mereka rutin berkumpul, bertukar pikiran, membahas persoalan agama, sekaligus melihat berbagai persoalan yang sedang dihadapi umat.

Salah satu tokoh muda yang aktif memimpin diskusi tersebut adalah Abdurrahman Syihab.

Saat itu, kehidupan umat Islam di Sumatera sedang menghadapi banyak dinamika. Perdebatan antara kelompok yang mempertahankan tradisi dengan kelompok yang membawa semangat pembaruan cukup kuat. Pada saat yang sama, politik pecah belah pemerintah kolonial Belanda ikut memperlebar jarak di tengah masyarakat.

Para pelajar muda di Debating Club merasakan kegelisahan melihat kondisi tersebut. Semakin sering mereka berdiskusi, semakin kuat keyakinan mereka bahwa umat tidak membutuhkan sekat baru. Umat justru membutuhkan sebuah wadah yang mampu mempererat hubungan dan menyatukan kembali berbagai kelompok yang ada.

Gagasan itu kemudian dibawa ke pertemuan yang lebih besar bersama para ulama dan tokoh Islam di Medan pada Oktober 1930.

Hingga akhirnya, pada 30 November 1930 atau 9 Rajab 1349 H, Al Jam’iyatul Washliyah resmi berdiri.

Nama Al Washliyah diberikan oleh Syekh H. Muhammad Yunus, ulama sekaligus pimpinan Maktab Islamiyah Tapanuli.

Kata Washliyah memiliki makna menghubungkan.

Nama itu bukan sekadar identitas organisasi. Di dalamnya tersimpan cita-cita besar: menghubungkan umat, mempererat persaudaraan, dan menghadirkan manfaat di tengah masyarakat.

Salah satu hal menarik dari sejarah berdirinya Al Washliyah adalah usia para pendirinya. Mereka masih sangat muda, Ismail Banda, yang kemudian menjadi ketua pertama Al Washliyah, baru berusia sekitar 21 tahun. Arsyad Thalib Lubis berusia sekitar 22 tahun. Sementara Abdurrahman Syihab masih berumur sekitar 20 tahun.

Mereka bukan tokoh senior. Bukan pula orang-orang yang sudah memiliki kedudukan besar. Mereka adalah para pelajar muda yang punya kepedulian terhadap kondisi umat.

Namun dari kegelisahan, diskusi, dan keberanian untuk memulai itulah lahir sebuah organisasi yang kemudian bertahan dan berkembang hampir satu abad.

Perjalanan hidup mereka setelah itu menunjukkan bahwa perjuangan tersebut bukan sekadar semangat anak muda sesaat.

Ismail Banda kemudian mengabdikan dirinya sebagai diplomat Republik Indonesia. Arsyad Thalib Lubis tumbuh menjadi ulama besar yang berdakwah hingga ke berbagai wilayah pedalaman Tanah Batak. Sementara Abdurrahman Syihab terus mengabdikan dirinya dalam perjalanan Al Washliyah hingga akhir hayat.

Di belakang para anak muda itu juga berdiri para ulama dan guru yang memberikan bimbingan serta dukungan, di antaranya Syekh Hasan Maksum, Mufti Kesultanan Deli, dan Syekh Muhammad Yunus.

Kolaborasi antara semangat anak muda dan bimbingan para ulama inilah yang kemudian menjadi salah satu kekuatan awal perkembangan Al Washliyah.

Sejak awal berdiri, Al Washliyah memilih tiga jalan utama dalam pengabdiannya: pendidikan, dakwah, dan amal sosial.

Pendidikan menjadi salah satu fondasi terpenting.

Madrasah demi madrasah dibangun. Guru-guru dikader dari lulusan sendiri. Masyarakat ikut membantu keberlangsungan lembaga melalui semangat gotong royong. Semuanya dibangun sedikit demi sedikit, dari masyarakat dan untuk masyarakat. Cara inilah yang membuat lembaga-lembaga pendidikan Al Washliyah memiliki akar yang kuat di tengah umat.

Dari sejumlah kecil lembaga pendidikan pada masa awal berdirinya, Al Washliyah kemudian berkembang menaungi ratusan sekolah dan madrasah serta sejumlah perguruan tinggi di berbagai daerah Indonesia.

Al Washliyah terus berkembang ke berbagai wilayah, membawa semangat yang sama seperti ketika pertama kali lahir: pendidikan, dakwah, kepedulian sosial, dan persatuan umat. Semuanya berawal dari sebuah lingkaran kecil para pelajar yang mau berdiskusi dan peduli terhadap keadaan di sekeliling mereka.

Hampir satu abad kemudian, kisah itu masih menyimpan pembelajaran untuk kita.

Perubahan besar tidak selalu dimulai oleh orang-orang besar. Kadang, ia bermula dari sekelompok anak muda yang berani peduli, mau duduk bersama, lalu memilih untuk melakukan sesuatu.

Form Donasi

Pilih nominal terbaikmu

Form Konfirmasi Donasi

Terima kasih telah menjadi bagian dari gerakan kebaikan ini.