Laznas Al-Washliyah Berangkatkan Tim Medis ke NTT, Perkuat Layanan Kesehatan bagi Penyintas Gempa

JAKARTA, 19 Agustus 2026 – Lembaga Amil Zakat Nasional Al-Washliyah memberangkatkan tim medis menuju Nusa Tenggara Timur pada Rabu pagi, 19 Agustus 2026. Tim diberangkatkan melalui Labuan Bajo sebagai bagian dari respons kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Tim medis Laznas Al-Washliyah terdiri atas tenaga dokter, perawat, dan bidan. Selain tenaga kesehatan, keberangkatan tahap pertama juga membawa obat-obatan serta sejumlah perlengkapan kesehatan yang dibutuhkan untuk mendukung pelayanan kepada para penyintas.

Setibanya di Labuan Bajo, tim akan berkoordinasi dengan unsur terkait dan melakukan asesmen kebutuhan di lapangan. Pelayanan kesehatan direncanakan bergerak secara mobile dari satu titik ke titik lainnya, terutama menuju lokasi pengungsian dan wilayah terdampak yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap layanan medis.

“Berdasarkan kebutuhan di lapangan, pengiriman pertama yang kami utamakan adalah tim medis beserta obat-obatan dan alat kesehatan. Tim ini nantinya akan bergerak secara mobile dari satu titik ke titik lainnya untuk menjangkau wilayah yang belum memperoleh layanan secara maksimal,” kata Direktur Laznas Al-Washliyah.

Ribuan Penyintas Membutuhkan Bantuan

Gempa bumi magnitudo 7,7 yang berpusat di wilayah Nagekeo menyebabkan dampak luas di sejumlah kabupaten di Pulau Flores. Berdasarkan data BNPB yang disampaikan pada Senin, 17 Agustus 2026, sebanyak 68 orang dinyatakan meninggal dunia dan 213 orang mengalami luka-luka. Korban meninggal tersebar di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Sikka, Ende, Manggarai Barat, dan Ngada.

Jumlah warga yang meninggalkan rumah juga terus bertambah. Data Kementerian Sosial pada Selasa, 18 Agustus 2026 mencatat lebih dari 31.000 warga mengungsi, baik di tempat pengungsian terpusat, lokasi pengungsian mandiri maupun wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan pelayanan kesehatan menjadi semakin mendesak. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengaktifkan sembilan pusat operasi darurat kesehatan di wilayah terdampak. Pelayanan medis diprioritaskan untuk penanganan trauma, kesehatan ibu dan anak, tindakan pembedahan, serta pemulihan layanan rumah sakit dan fasilitas kesehatan.

Laznas Al-Washliyah memandang keberadaan dokter, perawat, dan bidan sangat diperlukan, khususnya untuk membantu pemeriksaan kesehatan umum, penanganan luka, pelayanan bagi ibu hamil, anak-anak, lansia, serta kelompok rentan lainnya.

Selain menangani keluhan akibat luka dan trauma fisik, tim medis juga akan mengantisipasi munculnya berbagai penyakit di lokasi pengungsian. Kepadatan tempat tinggal sementara, keterbatasan air bersih, perubahan cuaca, serta kondisi sanitasi dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, gangguan pencernaan, penyakit kulit, dan menurunnya kondisi kesehatan kelompok rentan.

Menjangkau Wilayah yang Belum Terlayani

Pelayanan secara mobile dipilih karena wilayah terdampak gempa tersebar di beberapa kabupaten dengan kondisi geografis dan akses yang berbeda-beda. Sebagian penyintas berada di pengungsian terpusat, sedangkan sebagian lainnya mengungsi secara mandiri atau bertahan di kawasan yang cukup jauh dari pusat pelayanan.

“Posko dan pelayanan medis masih banyak terpusat pada titik-titik tertentu. Karena itu, tim kami akan berupaya menjangkau masyarakat yang berada di lokasi lain dan belum terlayani, tentu dengan terus berkoordinasi bersama pemerintah daerah, tenaga kesehatan setempat, serta unsur penanganan bencana,” lanjutnya.

Upaya menjangkau wilayah terpencil menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan gempa NTT. Pemerintah juga masih mengerahkan jalur udara, laut, dan darat untuk membawa bantuan menuju kawasan terdampak dan daerah yang sempat terisolasi. Hingga 17 Agustus 2026, lebih dari 100 ton bantuan darurat telah dikirimkan melalui berbagai jalur distribusi, termasuk menuju Labuan Bajo dan Maumere.

Siapkan Program Lanjutan

Keberangkatan tim medis merupakan tahap awal respons kemanusiaan Laznas Al-Washliyah untuk masyarakat terdampak gempa NTT. Setelah melakukan asesmen langsung, lembaga akan menyesuaikan program lanjutan berdasarkan kebutuhan paling mendesak di lapangan.

Program berikutnya dapat mencakup pembangunan dapur umum, distribusi makanan siap saji, penyediaan air bersih, perlengkapan pengungsian, serta bantuan kebutuhan dasar lainnya.

“Insyaallah, Laznas Al-Washliyah berkomitmen untuk hadir selama fase tanggap darurat hingga masa pemulihan. Setelah pelayanan medis berjalan, kami juga mempersiapkan kemungkinan pembukaan dapur umum dan distribusi makanan bagi warga terdampak,” ujar Direktur Laznas Al-Washliyah.

Laznas Al-Washliyah mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan keselamatan tim yang diberangkatkan serta kesembuhan dan ketabahan bagi seluruh penyintas gempa di Nusa Tenggara Timur.

Kolaborasi berbagai pihak sangat diperlukan agar pelayanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan dapat menjangkau masyarakat secara cepat, tepat, dan merata, terutama mereka yang berada di wilayah dengan akses terbatas.

Form Donasi

Pilih nominal terbaikmu

Form Konfirmasi Donasi

Terima kasih telah menjadi bagian dari gerakan kebaikan ini.